BERBAGI PENGALAMAN BERSAMA SUBSIDI
TEPAT
Saya
seorang ibu rumah tangga yang memiliki peran dalam membantu suami di keluarga
kami. Ketika saya melihat poster PERTAMINA dalam “berbagi pengalaman bersama
subsidi tepat” dengan membuat karya tulis, maka dengan semangat yang membara
saya ingin menuangkan sedikit isi hati. Kegiatan saya di Ibukota ini sejujurnya
sangat sukacita, karena sarana dan prasana yang sangat lengkap, dekat dengan
rumah sakit, dekat dengan ritel perbelanjaan, wisata dalam kota apalagi
transportasi yang beragam. Sehari-hari saya lebih sering menggunakan kendara roda
dua, selain menghindarkan kemacetan, saya juga dengan cepat berpaling jalan
jika saya salah arah/jalan, bukan hanya itu saja, jika ingin bertanya kepada
orang disekitar, penggunaan kendaraan roda dua juga sangat mudah. Sehingga kendaraan
roda dua saya sudah seperti kaki bagi saya. Saya juga seorang pekerja yang
menggunakan motor saya dalam menggemban tugas kerja, di tahun 2023 ini saya
sudah dua kali mendengar perubahan harga bahan bakar mesin. Sejujurnya sedikit
membuat saya was-was dengan kondisi gaji saya yang hanya sebatas upah minimum
regional Jakarta. Harga pertalite yang tahun 2022 sempat 7.650 hingga naik
menjadi 10.000, naik hingga 35% dan itu juga masih disubsidi oleh pemerintah. Tanggapan
saya tentang itu sungguh bukan sesuatu yang sangat mengejutkan, karena
kehidupan yang semakin bertambah tahun dan berkembangnya jiwa penduduk
menjadikan Sembako juga meningkat pemenuhannya.
Kota
Jakarta yang sangat padat penduduknya, bahkan orang Jawa barat juga banyak yang
bekerja di kota ini, menjadikan kota Jakarta tidak pernah tidur. Sehingga masih
ada POM Bensin yang buka selama 24 jam. Permintaan penduduk yang melakukan aktivitas
menjadikan salah satu kebutuhan pokoknya ialah bahan bakar kendaraan. Bahkan disaat
jam sudah menunjukkan pukul 23.59, kendaraan di POM Bensin tertentu masih memiliki
antrian yang panjang untuk mengisi bahan bakar, salah satu yang ikut mengantri
adalah Transjakarta. Saat ini di bulan Februari 2023, sekali mengisi bahan
bakar saya bisa terkena 45 ribu rupiah dengan jangka 2 hari berikutnya saya
harus mengisi bahan bakar pertalite lagi. Jujur, menggunakan Pertalite
menjadikan saya boros. Satu ketika saya mengisi bahan bakar kendaraan saya
menggunakan pertamax 92 dengan pembayaran 57 ribu rupiah di bom bensin tertentu
dan habis di jangka 4 hari dengan jarak tempuh yang sama dengan pertalite. Namun
ketika saya harus memiliki kegiatan diluar kebiasaan, menjadikan saya harus
mengisi bahan bakar dalam jangka 2 hari. Dan itu sangat menguras keuangan saya.
Pertamina
banyak mengeluarkan bahan bakar, ada yang berbentuk gas maupun cair, begitu
juga dalam penggunaan saya pada gas untuk kompor. Saat ini saya menggunakan gas
3 kg yang tertulis hanya untuk orang miskin. Terkadang dalam hati nurani saya,
bagaimanakah sebenarnya yang dikatakan oleh kata-kata yang ada di badan tabung
gas ini. Meskipun sebenarnya saya bukan orang miskin yang tidak memiliki
pekerjaan. Namun kehidupan di kota Jakarta menuntun kehidupan yang sangat
mengeluarkan banyak uang, bukan karena berfoya-foya. Saya sebagai Ibu Rumah
tangga tidak memiliki karakter yang hanya menghamburkan uang pada benda yang
tidak berguna. Sejujurnya saya juga pernah menggunakan gas elpiji yang besar
yang tabung 12 kg, namun harganya saat ini sudah mencapai 220 ribu, bagaimana
saya harus mengirit keuangan saya untuk pendidikan anak saya ditahun
berikutnya? Bahkan masih banyak pertanyaan lain yang muncul dibenak saya, ini
masih persoalan pada bahan bakar kendaraan dan bahan bakar gas untuk memasak di
keluarga saya.
Kepada
Pertamina, banyak harapan saya untuk kemajuan ke depan. Jika saya membandingkan
diri saya dengan yang ada di pedalaman, mungkin saya akan sulit dalam
mendapatkan bahan bakar, apalagi jika sudah jam delapan malam ke atas, begitu
juga dengan gas elpiji di daerah yang sedikit sulit didapatkan bahkan harganya
yang sangat berbeda dengan yang ada di Ibu kota Jakarta ini. Jujur dalam ilmu
ekonomi ini semua sangat biasa. Namun ketika pemerataan yang tepat dalam
pembagian subsidi, saya rasa akan sangat membantu para ibu rumah tangga
lainnya. Saya sangat berharap akan adanya cikal akan penerus bangsa yang mampu
menciptakan bahan bakar yang ramah lingkungan sehingga pemerintah tidak perlu
melakukan subsidi tepat lagi. Karena bangsanya sudah cerdas dan mampu
menciptakan lingkungan yang nyaman dengan salah satunya pengembangan bahan
bakar yang ramah lingkungan dengan quality Control yang maksimal, tanpa harus
ada yang terpinggirkan dan merasa menderita dalam menghidupi keluarganya. Kegiatan
yang penuh damai meskipun berada didaerah terpencil namun dapat menikmati
perkembangan zaman dalam menggunakan bahan bakar. Majulah selalu Pertamina,
karena Pertamina adalah penyalur penggunaan bahan bakar. Dan kami para Ibu
bahkan lainnya sangat membutuhkan bahan bakar demi kelangsungan hidup. Terimakasih
dari Jun Extin Loyalti Purba Jakarta.